Melihat berarti percaya: Implementasi protokol observer (pemantau) yang baru dalam perikanan pole-and-line di Indonesia.

heading-out-to-sea-at-sunrise-c-guillermo-moreno-gopr0695-w800h360

Dari lapangan di Indonesia- Guillermo Moreno berbagi pengalamnnya sebagai observer, pelatih, dan konsultan untuk dunia perikanan yang bekerja dibawah naungan IPNLF.

Saya telah bekerja di dunia Perikanan selama lebih dari 15 tahun, dimulaisebagai seorang observer di wilayah samudera selatan pada tahun 2001 di Kapal longline dan trawl. Hampir semua perjalaan yang saya lakukan terjadi selama musim dingin Antartika yang sangat dingin, sampai pada waktu itu beberapa orang yang berwenang memperingatkan saya untuk tidak mendekati daerah tersebut. Diperikanan di mana kami bekerja ini sangat diawasi untuk memastikan kepatuhan mereka dengan berbagai macam kegiatan konservasi dan pengelolaan,dan saat itu merupakan tanggung jawab saya untuk mengumpulkan sejumlah data mengenai operasional kapal dan juga hasil tangkapan yang nantinya digunakan sebagai analysis untuk menentukan populasi ikan yang ada di daerah tersebut. Saat ini pekerjaan saya mengharuskan saya untuk pindah ke perairan tropis di Indonesia. Untuk apa? Untuk menganalisis mengenai operasi penangkapan yang mana nantinya digunakan untuk mendesain suatu protokol sampling bagi para observer.

Mengapa Observer Perikanan sangat penting?

Observer Perikanan merupakan komponen utama dalam mendokumentasikan kegiatan Perikanan dan penangkapan yang memungkinkan pengelolaan sumber daya yang lebih komprehensif. Untuk IPNLF dan AP2HI, observer Perikanan yang ditempatkan di Kapal-kapal pole and line memiliki peran tambahan yang sangat penting. Itu juga merupakan tanggung jawab mereka untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan layak dan dapat digunakan untuk memastikan bahwa data tersebut telah mencapai hasil yang di inginkan. Jadi, selama beberapa bulan terakhir, saya telah bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) dan juga para nelayan untuk memperkuat dan menerapkan protokol bagi para observer.

Apa saja yang menjadi element kunci dari program dan observer protocol yang baik?

Belajar dari pengalaman untuk menjadi seorang observer program yang baik dalam perikanan tuna, ada beberapa hal yang harus dimiliki, diantaranya: protocol yang kuat dan teliti, koordinasi logistik yang efektif, dukungan para pemangku kepentingan yang kuat dan pelatihan yang tepat bagi mereka yang pergi berlayar ke laut untuk mengumpulkan data. Di negara seperti Indonesia, penting untuk memperhatikan faktor-faktor yang membuat semua kegiatan ini menjadi lebih kompleks. Misalnya, penyebaran geografis perikanan yang meliputi 17.000 pulau di Indonesia, jenis alat tangkap yang digunakan nantinya untuk menangkap tuna, berrvariasinya ukuran Kapal pole and line, keterbatasannya waktu istirahat di atas kapal, jumlah tuna yang tertangkap, serta jumlah penggunaan umpan. Semua masalah ini perlu diperhatikan ketika menjadi program observer, tetapi sebelum kita dapat berpikir tentang implementasi, pertama-tama kita perlu memastikan bahwa kita memberikan arahan yang tepat.

Mengembangkan protokol

Untuk memastikan observer protokol sesuai dengan tujuan, saya ikut  dengan beberapa kegiatan memancing di atas kapal pole-and-line di Indonesia, dibawah naunganan IPNLF. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa protokol akan memungkinkan para observer perikanan untuk mengumpulkan data yang paling relevan dengan cara yang paling efisien. Wawasan yang saya peroleh selama tahap pengembangan ini dan dukungan yang saya terima dari para nelayan itu sendiri sangat penting. Para nelayan adalah sumber pengetahuan yang sangat bagus mengenai semua aspek perikanan, tetapi mereka juga sangat membantu terutama dalam mengidentifikasi banyak spesies ikan yang digunakan sebagai umpan. Selain memiliki mata yang jeli, mereka sangat berpengetahuan tentang spesies, dan itu terbukti penting dalam menentukan bagaimana umpan harus diambil sampelnya secara komprehensif.

Mengaplikasikan protokol

Observer perikanan adalah pekerjaan yang beresiko, tidak terkecuali untuk pole and line, khususnya dikarena data perlu dikumpulkan pada berbagai aspek perikanan. Para observer diminta untuk mengambil sampel tangkapan di laut untuk menentukan total komposisi tangkapan berdasarkan spesies, serta komposisi umpan, jumlah umpan ikan yang ditangkap dan digunakan, upaya penangkapan ikan dan setiap interaksi dengan spesies yang terancam punah, terancam dan dilindungi (ETP). Untuk memenuhi tugas-tugas ini, para observer harus ahli dalam mengidentifikasi spesies, teknik pengambilan sampel, mengambil pengukuran yang akurat dan mengisi formulir pemantauan. Selain itu, penting bahwa para observer harus sensitif terhadap perilaku di kapal dan juga perubahan dalam kegiatan operasional

Untuk melibatkan para observer Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam implementasi dengan protokol baru, diadakanlah workshop pelatihan yang dikoordinasikan dan diselenggarakan di Bitung, Sulawesi Utara, pada awal Agustus. Dibimbing oleh  IPNLF’s Knowledge Sharing Guidelines, 13 observer perikanan dari pemerintah bergabung dengan saya dan personil dari AP2HI dan MMAF untuk sesi yang dirancang khusus untuk membantu para observer memahami peran mereka di Kapal nantinya. Dalam workshop yang berlangsung selama dua hari ini, kami berbicara panjang lebar tentang berbagai spesies tuna yang tertangkap di daerah tersebut, cara mengambil sampel tangkapan, serta cara mengidentifikasi dan mengambil sampel umpan yang dibawa di atas kapal dari unit bagan atau liftnet yang menangkap umpan tersebut. Kami juga membahas terminologi khusus perikanan dan pentingnya pemahaman ini untuk pengumpulan data.

Harapan kedepannya….

Sejak sesi pelatihan, para observer telah mempraktekkan protokol secara nyata di laut, mengujinya di enam kapal. Mereka juga mengumpulkan data yang diantaranya mendukung perikanan pole and line dalam perjalanannya menuju sertifikasi MSC. Dengan memiliki data yang kuat di tempat, perikanan ini dapat membuktikan kelestarian lingkungan mereka. Menyusul keberhasilan workshop di Bitung, IPNLF menyelenggarakan workshop lebih lanjut di Maumere, Indonesia, untuk melatih para observer tambahan. Untuk semua pekerjaan ini, kami berterima kasih kepada para donatur kami, Walton Family Foundation, David and Lucile Packard Foundation dan para anggota kami, Fish Tales, atas dukungan berkelanjutan mereka terhadap proyek ini. Kami juga ingin berterima kasih kepada MMAF atas dukungan dan kemitraan mereka yang berharga.

Oleh Guillermo Moreno | 29 Agustus 2018

 

Sumber: http://ipnlf.org/news/seeing-is-believing-implementing-new-observer-protocols-in-the-indonesian-pole-and-line-fishery

Please follow and like us:
Follow by Email
FACEBOOK
FACEBOOK